Who's Online

We have 3 guests online

Statistics

Members : 9
Content : 35
Web Links : 6
Content View Hits : 7620
Interoperabilitas Antar Perangkat Lunak dalam SCM


SCM adalah sistem yang melibatkan banyak entitas. Revolusi IT telah menjadikan entitas-entitas yang terlibat dalam SCM mengaplikasikan berbagai macam sistem PL untuk mendapatkan berbagai informasi terkait bisnis yang mereka jalankan. Era informasi sekarang juga telah menjadikan sebuah rantai produksi, distribusi, dan konsumsi bukan sekedar aliran barang tetapi juga aliran informasi. Beragamnya perangkat lunak yang digunakan oleh setiap entitas dalam SCM menghasilkan berbagai kendala dalam aktivitas pertukaran informasi. Kendala-kendala tersebut pada gilirannya menimbulkan biaya yang tidak sedikit sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa hasil studi (terutama di AS). Untuk mengatasi kendala tersebut, diperlukan sebuah standar yang mengatur interoperabilitas antar PL yang digunakan oleh entitas-entitas dalam sistem SCM.

Salah satu konsep yang dapat digunakan untuk membangun landasan interoperabilitas adalah ontologi. Sebagai sebuah kumpulan konsep yang mengandung pengetahuan tertentu, ontologi dapat dimanfaatkan untuk mengatasi perbedaan sintaktik pada level aplikasi dari berbagai perangkat lunak. Dengan adanya ‘jembatan’ tersebut, diharapkan komunikasi antar elemen dalam sistem SCM (terutama komunikasi komputer ke komputer) dapat lebih mudah dilakukan dan (diharapkan) mampu menekan biaya yang timbul dalam proses pertukaran informasi dalam sistem SCM

1. Pendahuluan

Revolusi informasi menjanjikan banyak kemudahan dan nilai tambah dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk industri. Dewasa ini, teknologi informasi bahkan telah menjadi key enabler bagi sebuah usaha, yang berarti sebuah usaha membutuhkan bantuan teknologi informasi untuk bisa bertahan dalam dunia yang makin kompetitif sekarang.

Untuk memenuhi kebutuhan dunia industri, berbagai jenis aplikasi telah diperkenalkan dan dikembangkan oleh berbagai perusahaan pengembang perangkat lunak.  Berbagai jenis aplikasi tersebut sedikit banyak telah membantu membangun industri yang lebih efisien dan responsif.

Beragamnya aplikasi yang digunakan, pada satu sisi berhasil mengatasi bergam kebutuhan yang muncul akibat beragamnya jenis industri, budaya perusahaan yang berbeda-beda, penggunaan standar yang berbeda, dll. Namun di sisi lain, keragaman perangkat lunak tersebut menimbulkan kendala dalam hal pertukaran informasi antara entitas yang terlibat dalam rantai produksi, distribusi, dan konsumsi.

Pada masa-masa terdahulu informasi dipertukarkan lewat sarana seperti kertas dan percakapan telepon. Dengan munculnya kebutuhan untuk mendapatkan dan mengakses informasi dengan lebih cepat dan lebih akurat, saluran-saluran informasi tersebut tidaklah lagi mencukupi.

2. Arti Penting Interoperabilitas

Munculnya kebutuhan untuk melakukan pertukaran informasi secara cepat dan akurat, telah memunculkan isu tentang perlunya interoperabilitas antar sistem perangkat lunak dalam sebuah sistem SCM. Isu tentang interoperabilitas menjadi bertambah menarik seiring dengan mnuculnya berbagai studi tentang biaya yang muncul dalam proses pertukaran informasi dalam sebuah sistem SCM. Sebuah studi yang dilakukan oleh National Institute of Standards and Technology (NIST) pada bulan Maret 1999 terhadap industri otomotif di AS menyebutkan bahwa biaya yang dikeluarkan oleh kalangan industri otomotif di AS untuk menangani kendala interoperabilitas mencapai 1 milyar US dollar per tahun. Sebanyak 50 % dari pengeluaran tersebut digunakan untuk aktifitas pertukaran berkas data.

Selain diharapkan mampu mengurangi biaya dan waktu yang diperlukan untuk aktivitas pertukaran informasi antar entitas, interoperabilitas antar perangkat lunak juga diharapkan mampu mempermudah proses upgrade ataupun migrasi perangkat lunak yang dilakukan oleh sebuah perusahaan. Sebagaimana sudah dimaklumi, salah satu hal krusial dalam migrasi perangkat lunak adalah migrasi data. Pihak perusahaan memiliki kepentingan untuk memelihara  historical data mereka. Sebuah integrator yang mampu menjembatani komunikasi antar perangkat lunak diharapkan mampu menangani isu ini.

3. Ruang Lingkup Interoperabilitas

Dalam beberapa studi yang telah dilakukan, permasalahan interoperabilitas antara lain didefinisikan sebagai “kemampuan untuk mempertukarkan informasi teknis dan bisnis dengan tanpa cacat dalam sebuah sistem supply chain ”. Sebuah aplikasi yang mendukung interoperabilitas juga diharapkan memenuhi persyaratan berikut:

  • Memiliki content yang akurat dan bebas dari redundancy
  • Aplikasi tersebut haruslah reusable dan extendable
  • Aplikasi tersebut harus dapat diaplikasikan dalam lingkungan sistem TI yang telah ada

Selain itu, isu interoperabilitas antar perangkat lunak tidak sekedar terbatas pada level penanganan perbedaan sintaktik antar aplikasi, namun juga terkait dengan pengungkapan semantik dari data yang dipertukarkan.

4. Tinjauan Atas Beberapa Alternatif

Untuk menangani kebutuhan interoperabilitas antar perangkat lunak dalam sistem SCM, terdapat 3 pendekatan umum, yakni:

  • Membangun sebuah aplikasi integrator point to point.
  • Mendorong seluruh entitas dalam sebuah sistem SCM untuk menggunakan aplikasi yang sama
  • Membangun sebuah aplikasi integrator standar yang bersifat terbuka

Sebuah aplikasi integrator yang bersifat point to point merupakan sebuah alternatif instan yang dalam jangka panjang justru berpotensi memunculkan masalah baru, baik dari segi kompleksitas maupun biaya.  Jika dalam sebuah sistem terdapat N entitas dan setiap entitas dalam sistem perlu saling terhubung, maka diperlukan N x (N-1) connector (gambar-1). Selanjutnya, jika sebuah entitas melakukan perubahan atas aplikasi yang digunakannya, maka seluruh integrator yang terkait dengan entitas tersebut juga perlu disesuaikan.

Penggunaan aplikasi yang sama jelas memecahkan masalah interoperabilitas. Tapi solusi ini merupakan solusi yang hampir mustahil. Permasalahannya tidak sekedar terletak pada pemenuhan kebutuhan, keunikan, dan standar yang berbeda-beda. Memastikan bahwa aplikasi semacam itu terjangkau harganya oleh seluruh entitas yang terlibat dalam sebuah sistem  SCM, adalah permasalahan yang lebih sulit untuk diselesaikan.

 

Pendekatan ketiga, yaitu dengan membangun sebuah aplikasi standar sebagai sebuah integrator, tampaknya merupakan sebuah solusi yang lebih masuk akal.  Dengan adanya sebuah aplikasi seperti itu, permasalahannya tinggal terletak pada pembuatan antarmuka antara sebuah perangkat lunak aplikasi dengan integrator tersebut. Sebuah integrator  seperti itu haruslah memiliki standar dalam segala aspek yang terkait dengan enterprise application, mulai dari komunikasi data antar sumber data yang berbeda-beda, hingga pengungkapan makna dari data-data tersebut (gambar -2).

Hingga saat ini, perkembangan dalam aspek komunikasi data telah menunjukkan kemajuan yang menggembirakan. Di antara perkembangan tersebut adalah pengadopsian protokol untuk melakukan pertukaran data secara elektronik. Hal lain adalah adanya sebuah standar bersama untuk pertukaran data yang telah diterapkan oleh para vendor basis data.

Namun, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa isu interoperabilitas tidak hanya terbatas pada komunikasi data secara fisik dan sintaktik. Pengungkapan atas isi dan konsep yang direpresentasikan oleh sekelompok data merupakan kunci bagi terciptanya sebuah integrator yang dapat menjadi jembatan bagi bermacam-macam aplikasi yang digunakan dalam sebuah sistem SCM. Pengungkapan semantik atas data juga memungkinkan dilakukannya penalaran (inferensi) untuk mengotomasi (setidaknya secara parsial) proses pembuatan connector dan translator antar aplikasi.

Pendekatan yang umum digunakan untuk mengungkap semantik adalah dengan ontologi. Ontologi adalah sebuah pendekatan yang telah lama dikenal untuk menyimpan dan merepresentasikan pengetahuan. Ontologi merupakan kumpulan konsep (class), relasi, dan fungsi yang merepresentasikan pengetahuan dalam semesta yang telah terdefinisi.

Ontologi dapat digunakan sebagai knowledge repository atas seluruh aktivitas dalam sebuah mekanisme supply chain management. Selanjutnya,  setiap perangkat lunak dipetakan terhadap knowledge repository tersebut melalui sebuah antarmuka tertentu.

5. Pengembangan Lebih Lanjut

Sebuah aplikasi integrator yang mempu menjembatani komunikasi antar perangkat lunak dalam sebuah sistem SCM mestilah dibangun di atas sebuah basis pengetahuan yang bersifat global. Basis pengetahuan dimaksud mestilah mampu mengkonseptualisasikan business view, functional view, dan data view dari berbagai perangkat lunak yang umum digunakan dalam sebuah sistem SCM.

Untuk memenuhi persyaratan tersebut, ontologi yang akan dibangun mestilah bersifat shared, open, dan non-propietary sehingga mampu mendorong terciptanya sebuah standar dalam menangani isu interoperabilitas. Inisiatif ke arah tersebut mestilah dimulai dengan melibatkan sebanyak mungkin pihak yang berkepentingan.

6. Kesimpulan

Dalam sebuah sistem yang melibatkan beragam perangkat lunak, kemampuan komunikasi antar perangkat lunak memiliki arti penting. Dalam sistem SCM arti penting tersebut terutama dilihat dari sisi pemangkasan biaya dan waktu.

Komunikasi antar perangkat lunak meliputi aspek komunikasi data hingga pengungkapan makna semantik, bahkan hingga level pragmatis (proses aksi-reaksi). Untuk pengungkapan semantik, salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan ontologi.

Agar dapat berperan sebagai basis pengetahuan dalm lingkup yang luas dan dapat mendorong terciptanya sebuah standar untuk menangani isu interoperabilitas, ontologi yang dibangun sebaiknya bersifat shared, opern, dan non-propietary.


Author: Iqbal Febriano